Jepang ajak Indonesia adopsi pengembangan kota pintar

2013-08-04 06:13:33

Jepang mengajak Indonesia, khususnya kota-kota besar, mengadopsi pengembangan kota pintar (smart city), untuk mengatasi masalah lingkungan maupun kemacetan guna mendukung pertumbuhan ekonomi yang hijau. "Indonesia bisa melihat kegagalan kami (mengatasi masalah lingkungan), sehingga bisa lebih cepat mencapai sukses," kata Walikota Kitakyushu Kenji Kitahashi, di Fukuoka, Jepang, Selasa, saat menerima delagasi Indonesia. Kitakyushu merupakan salah satu kota pintar (smart city) yang ditetapkan OECD (Organization for Economic Cooperation Development), di samping Chicago (AS), Paris (Perancis), Stockholm (Swedia) yang mampu mengatasi masalah lingkungan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang lestari. Kitahashi mengatakan tahun 1960 Kitakyushu merupakan kota terpolusi di Jepang, namun kini menjadi kota pintar yang ramah lingkungan, dengan emisi karbon yang rendah dari berbagai aktivitas seperti industri, transportasi, pembangkit listrik, maupun rumah tangga.  "Kami menjadi model pengembangan kota yang hijau," ujarnya. Saat ini, lanjut dia, Kitakyushu yang merupakan salah satu kota di provinsi Fukuoka menjalin kerja sama dengan Medan, Surabaya, dan Balikpapan, untuk pengelolaan sampah.  Menurut dia, kota-kota besar di Indonesia bisa menjadi kota yang ramah lingkungan dalam 10 tahun, dengan mempelajari kegagalan Kitakyushu yang baru bisa menjadi kota pintar setelah 40 tahun.  "Kami memiliki pengalaman dan pengetahuan (membangun kota pintar) selama 40 tahun. Negara anda bisa menerapkannya dalam 10 tahun (dengan belajar dari Kitakyushu)," ujar Kitahashi.  Rencananya Kitakyushu akan memamerkan kota pintar dan sistem yang diterapkannya pada Japan-Indonesia Expo di Jakarta, pada Desember 2013. "Expo itu merupakan salah satu perayaan hubungan Indonesia-Jepang ke-55," kata Ketua Pelaksana Indonesia-Japan Expo 2013 Heru Santoso. Sementara itu pengamat ekonomi Faisal Basri, yang ikut dalam rombongan, mengatakan untuk membangun kota pintar ramah lingkungan seperti Kitakhyushu, membutuhkan dana yang sangat besar dan dukungan pemerintah pusat. "Tidak mustahil, kota besar seperti Jakarta menjadi kota pintar layaknya Kitakyushu, meskipun karakteristik Jakarta sebagai kota jasa beda dengan Kitakyushu yang merupakan kota industri," ujar mantan calon gubernur DKI Jakarta itu.

Sumber : ANTARA News